Sabtu, 24 September 2011

Diary PJA #1#


Dokter Gigi dan Kematian

Met pagi diary. Hari ini lumayan cerah ya, mungkin juga sebentar lagi akan panas. Sudah hampir sebulan ini panas banget. Apakah neraka sedang bocor atau apalah namanya, soalnya dengan kata pemanasan global orang masih saja tidak percaya bumi ini panasnya meningkat. Eh kenapa membicarakan pemanasan global ya, gak penting banget, kan kita sudah pada tahu apa yang harus dilakuin untuk mengurangi itu. Bener gak?



Diary, kemarin aku nganter temen ke Dokter gigi. Diary jangan dulu punya pikiran jelek, Dia bukannya sakit gigi atau mau ditambal giginya, tapi mungkin pengen mengikuti gaya dengan dipasang kawat atau ngerapihin giginya, walaupun giginya udah bagus. Perjalanannya lumayan jauh tapi menyenangkanlah soalnya jarangjarang aku main ke dokter gigi, karena waktu kecil aku suka takut kalo diperiksa gigi.xixixi

Di tempat dokter gigi itu aku menunggu lumayan lama karena pasentnya cukup banyak. Walaupun banyak tapi tidak terdengar suara sedikitpun, yang ada hanyalah kesunyian, sepi. Serius. Aku hanya diam saja melamun kosong. Itu mengasikan dan tidak menguras tenaga juga pikiran.

Diary, setelah temanku kebagian jadwal masuk ke ruang pemeriksaan, aku merasa sendirian. Aneh, padahal dari tadi juga tetap sepi, tapi kenapa jadi merasa sendirian ya? Apakah sepi penanda bagi sendiri atau sendiri penanda bagi sepi? Aku celingak-celinguk merasa ditikam sejuta sunyi sampai tersadar bahwa di sana masih banyak orang dengan kesendiriannya.

Aku melihat ke samping kanan dan kiri, ternyata memang ada orang. Orang yang menjadi tidak ada karena tidak berelasi dengan sekitarnya, mungkin aku juga menjadi tidak ada. Mereka sibuk dengan dirinya sendiri, memegang hape querty, tiga orang samping kanan dan kiriku memegang blackberry. Aku benarbenar bosan dengan keadaan itu. Menunggu lumayan lama. Orang yang ada di sampingku mungkin juga bosan, mungkin juga tidak. Ekspresi wajah mereka beragam, ada yang cemberut, ada yang tersenyum, ada yang senyamsenyum, ada yang datar saja, ada juga yang seolah cemas.

Diary, aku benarbenar mulai bosan, temanku sudah lama di dalam. Aku melihat mereka, orang di sampingku, masih asik dengan dunianya. Mungkin mereka tidak berpikir betapa pentingnya hidup di dunia nyata, gak cuma eksis dengan BBnya. Apakah jika nanti mati mereka akan dikubur oleh temannya di dunia maya? Aku berani berkata, tidak mungkin, tetap saja kematian selalu berelasi dengan dunia nyata. Atau mungkin juga aku sedang mati, karena tidak berelasi dengan kenyataan. Diary, lalu apakah kematian itu? Aku terkadang bingung memikirkannya, walaupun itu selalu ada dalam setiap gerak kita. Kematian selalu saja aku pikirkan. Aku jadi ingat Bernard Shaw yang berkata: kematian itu mudah, hiduplah yang susah.

Eh ia diary, pagi ini masih begitu segar dengan semua harapan yang kita pupuk. Aku tidak ingin rusak kesegaran itu. Diary, Aku tidak ingin mengalami kematian eksistensi, kamu juga mungkin seperti itu kan? Diary sudah dulu yah, maaf kalo tulisannya gak enak dibaca, emang tulisan ini sengaja dibuat agar tidak enak dibaca, maklum penulisnya kurang intelek, bodoh, dan emang benerbener ngawur. Maaf telah membuat kalian membuang waktu membaca cacatanku ini. Maaf untuk semua maaf.[]

subuh, 19.09.11

* Pedi Jaba Anyoy, adalah mahasiswa Aqidah Filsafat Bandung angkatan 2008. Tulisan-tulisannya juga bisa kita baca di Buletin Verstehen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar